Selamat datang, kawan2 Buddhist… Namo Buddhaya

Anda pastilah orang yang memiliki karma baik telah masuk ke ruang ini di mana dhamma Sang Buddha Siddharta Gautama kembali dibabarkan. Hidup ini penuh penderitaan, sungguh sulit terlahir kembali sebagai manusia dan lebih sulit lagi bertemu dengan ajaran Para Buddha.

Ehipassiko,

datanglah dan saksikan sendiri kebenarannya.

Paccattam Veditabbo Vinnuhi,

dapat dipahami oleh masing-masing batin para bijaksana.

Sebuah foto di atas menyambut anda berjudul “Sun as Halo of buddha” (Matahari menjadi Aura Kesucian Sang Buddha) karya Mr. Krish Tipirneni menyambut kedatangan anda. Ini adalah Buddharupam raksasa di Husain Sagar, Hyderabad, India.

Tersenyumlah dan bersukacita karena dhamma Sang Buddha sedang dibabarkan…  🙂

Advertisements

Buddharupam Bamiyan Afghanistan Tengah

 

Vandalisme Oleh Pandangan Keliru

Masih ingatkah saudara sedhamma dengan kasus buddharupam raksasa di Afghanistan yang akan diledakkan bekas rezim Taliban tahun 2001 lalu? Dan Taliban tidak main-main dengan ancamannya untuk memusnahkan kebudayaan pra-Islam di Afghanistan atas perintah Mullah Muhamad Omar. Sekarang ini patung Buddha tersebut telah hancur jadi kerikil dan batu. Kaum Taliban beralasan, seni patung adalah berarti menantang kebesaran Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta. Pada saat manusia pembuat patung itu mati dan menghadap Tuhan nanti akan ditanyai olehNya, “Mengapa engkau menantangku dengan menciptakan manusia dari batu?”. “Jika engkau bisa menciptakan manusia dari batu, coba buat batu itu hidup seperti manusia!”, sabda Tuhan, menurut versi pendapat rezim Taliban.

Komentar saya hanya dua kata… : Capek Dehhh…!

Buddharupam raksasa ini dipahat seniman Yunani Bactria yang memiliki citarasa seni tinggi 800 tahun setelah disusunnya kitab Milinda Panha, satu dari kitab suci agama Buddha. Pada abad 3 sebelum masehi saat Raja Milinda atau Raja Menander adalah seorang gubernur jendral atau raja vasal dari kerajaan Yunani Bactria. Raja ini bertanya dan berdebat dengan seorang bhikkhu arahat bernama Nagasena yang dengan indah disusun ke dalam sebuah buku yang lalu dijadikan salah satu kitab suci agama Buddha. Di daerah Bamiyan inilah dulu raja Menander pernah berkuasa di tanah yang dulu subur, rakyatnya makmur dan menjadi pusat berkembangnya agama Buddha di Afghanistan.

Patung raksasa Buddha di Bamiyan Afghanistan tengah ini dipahat dengan gaya Indo-Yunani. Dengan kata lain patung ini perpaduan gaya Yunani yang menggambarkan Buddha dengan wajah yang menyerupai dewa Yunani Zeus atau Apollo dan figur patung yang menyerap gaya Hindu. Ini adalah salah satu patung dari dua patung raksasa di Afghanistan Tengah dan ini adalah patung terbesar yang diledakkan fisiknya oleh rezim Taliban. Patung ini adalah salah satu maha karya rakyat Afghanistan dari abad ke 6 masehi dan telah berdiri tegak menghiasi gunung batu ini selama 1500 an tahun! Menurut penuturan seorang peziarah asal  Tiongkok yang pernah berkunjung ke sini 632 Masehi bernama Hsuan Tsang menceritakan selain Buddharupam raksasa ini masih ada lagi sebuah Buddharupam raksasa dengan pose Buddha berbaring dengan tangan menyanggah kepala. Tetapi keberadaan patung ini masih dicari arkeolog karena diduga patung ini masih terkubur dalam tanah. Pada waktu itu menurut penuturan tulisan diary nya, Buddharupam ini berkilauan emas dan berhiaskan permata.  Dari atas patung dapat melihat ke bawah terdapat pemandangan lembah dengan 10 vihara dan didiami oleh 1000 bhikkhu di sana.

800 tahun lalu Genghis Khan menjadikan Buddharupam ini sebagai sasaran latihan tembak meriamnya.

Pada pergantian abad ke20 dari tahun 1880-1901 seorang raja Afghanistan bernama Emir Abdurrahman saat sedang mengejar kelompok gerilyawan pemberontak Bamiyan dari suku Hazara melampiaskan kekesalannya dengan merusak Buddharupam ini.  Emir Abdurrahman membantai puluhan ribu suku minoritas Hazara, yang mana seperti kebanyakan kaum minoritas di dunia islam selalu beragama aliran Islam Shi’ah.  Aliran Shi’ah terkenal dengan pola berpikirnya yang kritis terhadap politik penguasa di negeri-negeri Islam sehingga dibenci raja Emir Abdurrahman.  Kaum Hazara ini memiliki ciri-ciri wajah seperti nenek moyangnya yang berasal dari keturunan Mongol, Chinese dan Tibet.  Dan dikarenakan kebetulan wajah Buddharupam raksasa ini memilik wajah yang seperti wajah orang Mongol-Chinese-Tibet, maka Emir Abdurrahman makin tersinggung dan kesal lalu memerintahkan pasukan menembakinya dengan meriam.  Akibatnya wajah kedua  Buddharupam raksasa itu dipahat dan lengan serta kakinya putus dihajar tembakan meriam.

Akhirnya Buddharupam ini baru benar-benar musnah dari muka Bumi ini oleh bahan peledak modern dan niat kemauan rezim Taliban sampai hancur jadi debu.

Saya tampilkan profil seorang penduduk lokal yang dipaksa Taliban untuk memanjat patung sambil membawa jack hammer (alat untuk membubut dan merontokan aspal) dan dinamit.

Namanya Mirza Hazyeim dari suku Hazara.  Ia sangat takut saat memasangkan bom pada patung sang Buddha ini dan merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir. Dia dipaksa setelah diintimidasi bahwa ia tidak Islam, kafir dan akan segera dibunuh seperti putri dan istrinya serta sanak keluarganya yang telah terlebih dulu dibunuh Taliban. Oh, kejamnya dunia!

Photo oleh:

* TV National Geographic Channel (foto Mirza Hazyeim dan Patung diledakkan).

* Mr. A. Lezine dari UNESCO (foto hitam putih Buddharupam Bamiyan thn.1963, bawah)

* Dr. Bill Podlich (telah meninggal Januari 2008, foto Buddharupam Bamiyan dari kejauhan, bawah)

* Photogarapher tak dikenal diambil dari sebuah situs web (Buddharupam Bamiyan dengan penduduk lokal sedang jongkok didepannya)

* Photo dari TV CNN (Buddharupam Bamiyan sedang diledakkan oleh manusia berwatak iblis )

* Mr. Filippo (foto gunung batu sekarang setelah Buddharupam Bamiyan diledakkan dan foto puing Buddharupam Bamiyan dikumpulkan untuk didata arkeolog)

Tulisan oleh: Bamiyan Buddha

Sebuah Dhammadessana Oleh Y.M. U Pannathami Sayadaw

 

Kesempatan Yang Amat Jarang Terjadi

Ada hal yang paling saya suka dan tunggu-tunggu saat nongkrong di Vihara Dhammacakka Jaya Sunter Jakarta Utara ini, yaitu diadakannya ceramah atau bahasa kerennya Dhamma Talk. Terkadang datang jauh dari Australia, Srilanka, Birma, atau bahkan dari Nepal, bhikku senior yang makin memeriahkan terpuaskannya dahaga kita akan dhamma nan indah. Bukan dhamma ngawur dari mulut bhikku yang cuma “Buddha-Buddhaan” tetapi mereka adalah narator dhamma yang “The Real Buddha”. Mereka adalah para bhikku yang berkelas internasional, amat disayangkan jika yang hadir menonton tidak mengerti bahasa Inggris.

ym-u-pannathami-sayadaw Kali ini adalah bhante Y.M. U Pannathami   Sayadaw, beliau adalah kepala pusat meditasi Panditarama Sydney, Australia. Bhante hanya tinggal beberapa hari lagi saja di Indonesia karena ada tugas mengajar di negara lain menunggunya. Sabtu, 8 Desember 2007 itu ruang Narada begitu penuh oleh wajah-wajah maniak meditasi, begitulah kesannya.

Bhante berceramah tentang ucapan Sang Buddha Siddharta Gautama bahwa, adalah kesempatan yang amat jarang terjadi seseorang dapat terlahir sebagai manusia. Oleh karenanya mulailah dengan meditasi vipassana.  Meditasi dapat membantu kita terlahir lagi di alam yang berbahagia yaitu alam dewa termasuk alam manusia, “Sugatim Yanti”.

Ada 4 landasan meditasi yaitu konsentrasi penuh pada tubuh, perasaan, kesadaran dan dhamma. Jika kita latih meditasi ini dengan rajin, terus menerus, kita akan meraih pengetahuan batin yang mungkin bisa membantu kita meraih pencerahan sempurna. Pencerahan sempurna ini akan membuat kepercayaan kita pada Buddha, Dhamma dan Sangha tak tergoyahkan atau Saddha yang tak tergoyahkan oleh siapa pun. Inilah ajaran Sang Buddha, ini adalah kesempatan yang sangat jarang bagi seseorang untuk memiliki keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Seseorang tidak akan dapat duduk di ruangan Narada ini mendengarkan dhamma dengan penuh hormat jika tidak punya tabungan karma baik dari masa lalunya!

Sabbe Sattā Kammayonī

Semua Makhluk Lahir Dari Karmanya Sendiri,

Sabbe Sattā Kammapațisaraņā

Semua Makhluk Terlindung Oleh Karmanya Sendiri

Foto dan tulisan oleh Bamiyan Buddha